Pages

Senin, 28 Maret 2011

Eva Rosdiana : Setegar Batu Karang

Eva Rosdiana
Eva Rosdiana namanya. Dia teman yang saya kenal sebagai gadis yang baik hati, cantik, periang dan tidak sombong pula. Eva juga gadis yang penuh sopan santun sehingga banyak yang suka berteman dengannya. 


Eva anak ketiga dari empat bersaudara dari pasangan Arjam dan Upi Umayah. Dia dilahirkan di Majalengka, Jawa Barat pada 19 Maret 1992. Dari empat bersaudara ini, hanya seorang laki-laki sedangkan lainnya perempuan. Dia dibesarkan di Majalengka dan bersekolah sejak TK, SD, SMP dan SMA di kota kabupaten tersebut.


Eva termasuk murid yang menonjol prestasinya di sekolah. Selama bersekolah di SD ia termasuk murid berprestasi karena sifatnya yang aktif dalam kelas bahkan selalu dapat masuk ke dalam 10 besar di kelasnya. Lulus SD diapun melanjutkan ke SMP Negeri 1 Sukahaji, Majalengka. "Saat itu yang saya rasakan, persaingan untuk memperebutkan juara kelas sangatlah ketat," kenang Eva. 


Namun dia tetap berusaha untuk selalu memberikan yang terbaik untuk kedua orangtuanya. Rasa cemas dan khawatir datang ketika hari pengumuman lulus SMP. Namun seketika perasaan itu lenyap setelah mendapatkan hasil bahwa dirinya telah lulus dengan nilai-nilai yang sangat memuaskan. 


Sayang, kehidupan keluarganya yang harmonis mulai terganggu saat dia duduk di bangku SMA itu. Konflik di keluarganya itu muncul saat dia duduk di bangku kelas tiga SMA. Ayah dan ibunya mulai sering bertengkar. Saat itu dirinya sedang menghadapi Ujian Nasional. Namun dia tetap tegar, dan berusaha mengerjakan soal-soal ujian sesuai kemampuannya. Meski saat itu suasana di rumahnya tidak mendukung. Ayah dan ibunya ribut terus.

Rasa khawatir tidak lulus ujian selalu membayanginya saat itu. Konsentrasi Eva nyaris buyar. Namun dia tetap berusaha mengendalikan diri. Berat memang. Semua menjadi kacau dan berantakan karena sikap kedua orang tuanya. Sikap sang ayah mulai berubah dan  sudah tidak lagu peduli pada keluarga, termasuk anak-anaknya. Namun Eva meneguhkan dirinya. Dia tetap tegar bak batu karang dalam menghadapi kenyataaan itu.


Dan begitulah. Eva berhasil mengatasinya. Dengan susah payah dan kerja keras, dia berhasil lulus dan mendpatkan nilai Ujian Nasional (UN) yang cukup memuaskan. Tadinya dia berniat melanjutkan kuliah di Universitas Padjajaran, Bandung. Namun impiannya tersebut sulit terwujud mengingat konflik dalam keluarganya yang belum terselesaikan. Tak ada yang bisa diharapkan, baik ayah maupun ibunya.


Akhirnya setelah difikir masak-masak, Eva memutuskan untuk tinggal bersama kakak perempuannya yang saat itu sudah bekerja di Bekasi. Dia sendiri tadinyaa ingin bekerja juga menuruti jejak kakaknya dan mengubur keinginannya untuk melanjutkan kuliah. Sang kakak yang faham dengan otak cemerlang sang adik merasa iba. Diam-diam dia juga mengerti kemauan terpendam adik yang dia sayangi itu. 


Kakaknya inilah yang kemudian mendaftarkan Eva untuk kuliah di salah satu universitas swasta di Bekasi. Awalnya Eva menolak tawaran kakaknya untuk melanjutkan kuliah. Namun karena niat kakaknya yang tulus itu, maka Evapun luluh. Sang kakak tampaknya mempunyai harapan agar masa depan adiknya lebih terjamin. Biaya kuliah? Semua ditanggung oleh sang kakak yang memang sudah mempunyai penghasilan sendiri. 


Eva kemudian berpamitan dengan kedua orang tuanya di Majalengka. Di luar dugaan, adik bungsunya yang dekat dengan Eva juga ingin mengikuti. Dia memutuskan untuk pindah sekolah ke Bekasi dan tinggal bersama kakak-kakaknya. Mereka merasa orang tuanya juga sudah acuh tak acuh serta tidak lagi mau memperhatikan hidupnya di Majalengka. Jadilah kakak beradik itu merantau ke Bekasi.


Meski demikian, Eva tetap sayang pada ayah dan ibunya. "Mereka tetap orang tua saya yang mesti saya hormati dan sayangi," tegasnya. Begitulah Eva. Meski disakiti dan dia merasa orang tuanya tidak lagi diperhatikan kehidupannya, dia tetap hormat dan tetap menyayangi kedua orangtuanya. Dia juga selalu memaafkan kesalahan mereka dengan lapang dada. Ia hanya bisa berdoa agar Tuhan memberi jalan yang terbaik bagi keluarganya.


Eva yang saya kenal tetap bersemangat dan ceria dalam menjalani hari-harinya. Dia benar-benar gadis setegar batu karang. Selalu berusaha menjadi dan memberikan yang terbaik untuk orang-orang yang disayanginya.


Penulis : Danik Isnawati 

1 komentar:

  1. Eksplorasi Eva dan keluarganya sudah cukup bagus, hanya saja kurang jelas apa penyebab konflik di keluarga Eva tersebut. Saudara-saudara Eva juga tidak diperkenalkan nama-namanya dengan jelas, sehingga ada yang terasa kurang dalam detil-detil kisahnya. Alurnya sudah cukup baik.

    BalasHapus