Pages

Tampilkan postingan dengan label Profil PANGLIMA. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Profil PANGLIMA. Tampilkan semua postingan

Rabu, 30 Maret 2011

Widya Darmawati : Sang Ketua Angkatan

Widya Darmawati

Namanya Widya Darmawati. Dia teman seangkatan saya saat masuk di Unisma setahun lalu. Kami biasa memanggilnya “teteh”, sebab dia merupakan Ketua Angkatan kami. Dia pula yang memilih Panglima sebagai nama angkatan kami. 

Saya kagum padanya. Dia pemimpin yang baik bagi kami semua, para mahasiswa Angkatan kelima yang masuk ke kampus ini pada 2010. Buat saya, dia Ketua Angkatan yang hebat. Bagaimana tidak? Dia sangat bertanggung jawab melaksanakan tugasnya. Mulai dari menyebarkan materi secara merata, mengatur jadwal kuliah apabila ada dosen yang minta pertambahan jam. Semuanya.
Dia juga mahasiswi yang sangat mandiri. Diam-diam saya mengagumi Widya. Di usia yang masih begitu muda, dia sudah bekerja, menghasilkan uang sendiri untuk membiayai kuliahnya di Unisma. Saat kami semua, teman-temannya, sedang tertidur nyenyak di rumah, Widya bisa jadi sedang bekerja. 

Dia memang bekerja sembari kuliah. Tentu sulit mengatur jadwal kehidupan seperti itu. Tetapi dia tampaknya mampu melakukan itu. Sebagai perempuan bekerja, tentu dia mengalami pula konflik-konflik dalam kehidupannya. Tentang perlakuan bosnya pada dirinya yang mesti dia terima dalam posisinya sebagai pegawai. Juga tentang keluarganya.

Widya telah memasuki kehidupan sebenarnya. Melebihi kami semua teman-teman seangkatannya. Dunia kerja adalah dunia yang keras. Tempat dimana orang saling sikut untuk mendapat sesuatu dan tampaknya, menurut pengamatanku tampaknya Widya sering pula kena sikut. Bisa jadi itu yang membuatnya menjadi perempuan yang tangguh dan mandiri. Apabila kau diberi rasa sakit, rasa sakit itu justru akan membuatmu lebih kuat. Sebuah tembikar yang cantik harus melewati proses pembakaran dulu agar menjadi kuat bukan?
Walaupun memiliki aktivitas yang sangat padat, ternyata dia dianugerahi otak yang cemerlang. Widya juga dikenal senang membaca buku. Wawasannya begitu luas. Bisa jadi karena dia sering berinteraksi dengan orang banyak. 

Saat pertama kali masuk kampus, kebanyakan dari kami buta sama sekali dengan dunia politik. Widya muncul sebagai sosok yang seolah-olah serba tahu akan itu semua. Seakan-akan dia tahu tentang apapun. Itu yang membuat kami memilihnya sebagai Pemimpin. Dengan semua kesibukan itu, semester lalu dia berhasil meraih IP sempurna yaitu 4. Luar biasa bukan?

Widya juga seorang teman yang peduli dengan temannya. Dia mampu memainkan berbagai peran, sebagai sahabat maupun sebagai kakak yang mengayomi adiknya. Saat kami mengalami kesulitan, maka tak segan-segan dia membela posisi kami. Dia juga negosiator handal yang beretika saat berunding.

Dia tampaknya selalu berupaya memberikan yang terbaik untuk semua orang. Padahal aktifitas-aktifitasnya begitu padat. Jujur, saya berharap memiliki banyak teman seperti Widya. Saya selalu berdoa untuknya. Saya berharap dia bisa mencapai keinginannya  memperoleh beasiswa dari kampus ini. 

Dia sungguh teman yang sangat spesial dan pantas mendapatkan yang terbaik saat menjalani kehidupannya. Saya harap dengan segala kelebihannya itu, Widya akan mendapatkan yang terbaik dalam kehidupannya nanti.  Semoga.

Penulis : Jessi Carina

Selasa, 29 Maret 2011

Indana Lazulfa Khaleda Rachman : Gadis Penikmat Kuliner

Indana Lazulfa Khaleda Rachman
Saya mempunyai teman baik di Kampus. Namanya cukup panjang yaitu Indana Lazulfa Khaleda Rachman. Gadis kelahiran Jakarta, 2 Februari 1993 ini penikmat kuliner yang baik. Dia senang sekali makan enak. Pendek kata berteman dengan Dina, berarti terjamin pula isi perut.

Dina, begitu panggilan akrabnya berdomisili di Cikarang, Jababeka bersama kedua orang tuanya. Dia melewati masa-masa sekolahnya secara normal. Dimulai dengan TK Al Ichwan, lantas setelah lulus melanjutkan sekolah dasar di SD Mekar Mukti 06, Jababeka. Sedangkan SMP dan SMA dia tempuh di lingkungan Pesantren Jatiwaringin, Pondok Gede. Begitu lulus SMA, diapun memilih Unisma sebagai tempatnya meraih gelar sarjana nanti.

Selama mengenalnya, Dina itu orangnya baik dan menyenangkan. Hanya saja saat pertama kali saya melihat dia, kesan saya adalah Dina ini orangnya acuh tak acuh. "Cuek banget sih anak ini," fikir saya ketika itu. 

Akan tetapi setelah saya sudah mengenalnya cukup dekat ternyata Dina tidak secuek yang saya duga. Orangnya ternyata seru dan heboh. Dalam keluarganya, Dina adalah anak pertama dari tiga bersaudara. Dia masih memiliki dua orang adik lagi. Kalau di kampus, Dina senang sekali ngeledekin saya. 

Hanya saja, saya tak peduli bila diledek Dina. Maklumlah, dia sahabat saya dan mengerti pula bahwa dia hanya bercanda saja. Tidak serius. Tidak perlu diambil hati. Meskipun kami saling meledek, tak pernah saya marah padanya. Dengan sikapnya yang terkesan acuh tak acuh itu, aneh juga kalau ternyata dia senang sekali bercanda.

Bisa jadi, bilamana ada yang belum mengenal Dina lebih jauh lagi, pasti mengira dia gadis sombong. Tetapi tentu saja itu tidak benar. Latar belakang keluarganya yang relatif hidup berkecukupan juga tidak membuatnya pilih-pilih teman. Dia bisa bersikap baik dengan siapa saja. Dina juga tidak pelit. Kalau sakunya sedang penuh, dengan senang hati dia mentraktir teman-teman terdekatnya.

Selain itu, dia juga bisa diajak curhat dan dia selalu berupaya  memberi solusi kepada saya. Walaupun terkadang solusinya suka tidak tepat dengan apa yang saya sedang rasakan. Namun saya tetap menghargainya. Kalau meleset ya paling-paling cuma kita jadikan sebagai bahan becanda. 

Ada satu sifatnya yang belum bisa dibuangnya. Terkadang Dina mudah sekali ngambek, apalagi kalau keinginannya tidak terpenuhi. Atau segala sesuatu tidak berjalan sebagaimana mestinya. Akan tetapi saya sudah hafal. Bila dia sudah ngambek, maka saya acuhkan saja, soalnya nanti juga selesai dengan sendirinya.


Penulis : Annisya Dewi Kurnia.

Jessi Carina : Serius Bertanya Apa Cuma Ngetes?

Jessi Carina
Mahasiswi dengan penampilan sederhana ini lahir di Jakarta, 19 Januari 1992. Dalam keluarganya, dia adalah bungsu dari tiga bersaudara. Meski berstatus anak bungsu, nyatanya Jessi Carina - begitu nama sang mahasiswi itu - mempunyai pula beberapa orang "adik" di rumahnya. Tentu saja bukan adik benaran.

Anak kecil yang sering dia asuh sehari-hari di rumahnya itu adalah keponakannya. Anti, begitulah panggilan salah satu "adik" kesayangan Jessi itu. Anti merupakan amanah dari sang kakak yang tak mungin diabaikan begitu saja. Anti sangat dekat dengan Jessi dan diapun dengan senang hati menjadi pengasuh keponakannya itu.

Satu hal yang patut dicatat, Jessi adalah salah satu mahasiswi peraih beasiswa fullbright di Unisma. Dia memang pantas meraih beasiswa itu sebab catatan prestasinya sejak SMA begitu menonjol. Posisi ranking satu di kelas  merupakan bukti nyata bahwa secara akademik, dia memang hebat. Dia juga aktif dalam organisasi pemuda pelajar.

Kesan pertama yang saya tangkap saat berkenalan dengannya adalah kebersahajaannya. Selain itu, saya mengenalnya sebagai teman yang baik dan murah hati. Suatu hal yang membuat saya merasa senang bisa bertemu dan menjadi temannya di kampus terbesar di Bekasi ini. Sejak berteman dengan Jessi, banyak hal positif yang dia tularkan pada saya. Hobinya yang keranjingan membaca dan menulis telah menggerakkan diriku untuk mengikuti jejaknya.

Lantaran hobinya dalam membaca apa saja, tidak mengherankan bilamana pengetahuannya lebih kaya dibanding saya. Dia memang pintar dan cerdas. Sayangnya, Jessi agak pemalu. Sehingga kecerdasannya ini sering tertutupi rasa pemalunya itu. Satu ciri khas lain mengenai dirinya yang sekaligus menjadi hobinya yaitu dia gemar bertanya tentang apa saja. Atau mempertanyakan segala sesuatu yang menurut saya  tak pernah terfikirkan. Bisa jadi karena rajin bertanya itulah dia bisa mencatat prestasi akademik yang baik.

Karena kegemarannya bertanya itulah saya menjulukinya sebagai Miss Ngetes. Sesuai julukannya itu, saya sering dibuat keqi lantaran dia sering bertanya. Dan pertanyaannya kadang sungguh tak terduga. Pertanyaan yang terkadang membuat kening saya  mesti berkerut-kerut memikirkan jawabannya. Seolah-olah mendadak ada benang kusut di otak saya.  Wajahnya yang polos dan lugu itu kerap menipu. Seolah-olah dia sungguh-sungguh bertanya dan butuh jawaban yang harus didiskusikan secara serius. Padahal tidak.

Dalam banyak kesempatan, dia sering mengetes pengetahuan saya mengenai sesuatu. Dia benar bertanya seolah tidak tahu. Akan tetapi ketika saya mencoba menjawab pertanyaannya, tanpa berdosa dia menjawab dengan lugas : "Wah, salah. Bukan begitu maksudku!”. Lantas dia menjawab panjang lebar menjelaskan pertanyaan yang dia jukan tadi. Sialan. "Argh, Jessi. Kenapa pula harus bertanya jika sudah tahu jawabannya!” Aku sedikit kesal dibuatnya karena kebiasaanya mengetes itu.

Hobinya sebagai Miss Ngetes itu masih terus dijalankan hingga sekarang. Celakanya, sampai sekarang pun saya masih belum bisa membedakan antara pertanyaan Jessi yang memang benar-benar serius bertanya atau  pertanyaan yang sekedar ngetes saja. Wajar saja, karena kedua hal itu dia lakukan dengan cara dan tampilan yang serupa. Polos, lugu dan apa adanya. "Sepertinya aku masih harus banyak belajar mengenai cara membaca pikiran manusia melalui mimik muka," pikir saya suatu ketika.

Walau begitu, sebenarnya niat sang mantan Ketua OSIS saat SMA ini, berperan sebagai Miss Ngetes itu adalah untuk berbagi informasi kepada teman-teman di sekelilingnya. Cara ini dia gunakan untuk mengetahui apakah informasi yang akan dia berikan sudah diketahui atau belum. Saya akui, caranya dalam menyampaikan informasi memang unik. Memberikan sebuah pertanyaan itu, lalu berusaha menjawabnya. Dengan demikian orang tidak begitu saja disuapi informasi layaknya anak kecil.

Ada nilai positif dari hobinya itu. Setelah ia ngetes, tandanya aku telah mendapatkan informasi baru. Sisi negatifnya, ya…tentunya bikin temannya menjadi keki dan sedikit jengkel.

Penulis : Dela Visa

Dela Visa Caniago : Ingin Sukses di Usia Muda

Dela Visa Caniago


Saya menemui Dela Visa Caniago, di sela-sela kesibukan kuliahnya di Kampus Unisma. Panggilan akrab anak bungsu dari lima bersaudara ini Dela. Lahir di Jakarta, namun besar di Bogor. 

Apa arti dari namanya itu? Unik juga. Ternyata itu berasal dari hari dan tanggal  kelahirannya yaitu Selasa, 18 Februari. Dela mewakili DELApan belas. Adapun VISA dari VI mewakili bulan Februari, dan SA mewakili hari Selasa. Kreatif bukan? Sedangkan Caniago adalah nama marga dari keluarganya.

Dia agak bingung menjawab saat saya tanyakan apa hobi dan kesukaannya. "Hobi adalah sesuatu yang benar-benar disukai untuk dikerjakan," ujarnya mendefinisikan . Menurut dia, apabila mendengarkan musik atau surfing di internet dengan membuka facebook dan twitter,  maka hal itu bukanlah sebuah hobi. Menurut dia, hal itu sudah menjadi rutinitas atau kebutuhan. 

Akan tetapi rupa-rupanya  sekarang ini dia menjadi begitu suka membaca,. Bisa jadi itulah hobi Dela akhir-akhir ini. Kalau dulu, dia membaca buku hanya seperlunya saja. Bisa jadi, dia menjadi suka membaca karena teman-temannya juga senang membaca. Entahlah.

Saat saya tanyakan tentang pilihannya menuntut ilmu di Unisma,  dia menjawab bahwa itu sudah menjadi takdir. Sebab di Bogor atau Jakarta pasti banyak Universitas yang lebih elite dari Unisma. Tapi mengapa Dela memilih Unisma? "Ah itu takdir," ucapnya seraya tersenyum manis.


Sebenarnya sejak SMP lantas SMA, Dela sudah mengkonsep pilihannya sendiri. Dia sudah memikirkan sejak SMP akan melanjutkan ke SMA mana lantas ke Universitas apa. Tetapi hanya bisa berencana bukan, Tuhan juga yang menentukan. Tepat! Rencana diatas hanya tinggal rencana. Selepas SMP, dia harus masuk SMA IT di Bogor, yang menurutnya Sekolah Islam Terpadu itu begitu disiplin dalam berpakaian,. Juga dalam mendisiplinkan sikap dan perilaku peserta didiknya. "Islam banget deh pokoknya,” ujar Dela tanpa hendak merinci apa yang dia maksudkan dengan ucapannya itu.

Tapi sekarang dia tidak menyesal, dia bahkan sangat bersyukur pernah menuntut ilmu disana. Rencana Tuhan selalu indah dan tepat untuk umat-Nya..


Sama halnya pula dengan Unisma, Dia mencoba peruntungannya masuk Universitas ini dengan jalur Beasiswa Fullbright. Awalnya dia tertarik masuk jurusan Ilmu Komunikasi karena ada hal-hal yang berbau "radio”. Seiring berjalannya waktu, gadis keturunan Padang itu bercita-cita menjadi seorang ahli PR (Public Relations). 

Namun mendadak di lain kesempatan dia menyatakan ingin menjadi seorang wartawan, karena sebuah testimony dari dosennya. Bahwa seseorang yang sukses adalah seseorang yang pernah menjadi wartawan, Dan seorang tokoh yang dicontohkan adalah Soekarno , presiden pertama RI yang memang di masa mudanya dulu pernah menjadi seorang wartawan.

Dia juga terkesan ketika ada dosen lain  yang berkata, "Ayo dong kalian berwirausaha,..”  dengan sejumlah argumentasi. Ketika itu, semua orang tertarik, termasuk Dela. Begitu ada kesempatan dia langsung berujar, “Eh ayo dong kita berwirausaha, tapi apa ya?” 

Dela agaknya memang terobsesi pada sebuah kesuksesan di usia muda. Memangnya siapa yang tidak ingin sukses? Apalagi saat usianya masih muda. Termauk Dela. Dia ingin segera mewujudkannya. Dia ingin menjadi seseorang yang sukses di usia muda. Obsesif itu bukan sesuatu yang buruk, asalkan tentu saja tahu posisi kita, jelas tujuannya serta jelas pula cara mewujudkannya. Maka itu jelas obsesif yang positif. Begitulah.


Penulis : Fauziah Cahyani

Lia Deviyanti : Si Periang Pembawa Keceriaan

Lia Deviyanti

Dia temanku. Gadis berusia 18 tahun puteri bungsu dari ayah bernama M. Lukman dan ibu bernama Nova Irianti ini dilahirkan  di kota hujan, Bogor, pada  2 Juni 1992. Lia begitu panggilan akrab anak ketiga dari tiga bersaudara itu. Lengkapnya Lia Deviyanti. Nama yang cantik, sesuai dengan orangnya. 

Ayahnya dan ibunya bekerja sebagai karyawan swasta. Dan karena tuntutan pekerjaan pula dia mesti rela ditinggal pergi oleh ayah dan ibunya pada usia yang masih sangat muda. "Sejak umur satu tahun aku sudah ditinggal pergi oleh mereka," kenangnya.

Waktu itu tentu saja dia belum mengerti. Yang dia tahu, dia jarang bertemu dengan ayah dan ibunya. Sang ayah bekerja di Semarang, Jawa Tengah sedangkan ibunya bekerja jauh di Kota Manado, Sulawesi Utara. Untunglah masih ada sang nenek yang memberinya limpahan kasih sayang menggantikan ayah dan ibunya yang hanya menengoknya beberapa hari dalam sebulan. Selama tiga tahun dia diasuh oleh neneknya.

Sebagaimana anak bungsu pada umumnya, Lia  terkesan sedikit manja. Walaupun begitu dia gadis yang periang dan senang bercanda. Ia selalu membawa keceriaan di Panglima. Panglima adalah sebutan untuk angkatan kuliah di kampus kami. Ada saja hal-hal konyol yang dia lakukan dan dapat mebuat aku dan teman-teman lainnya tertawa lepas.

Aku mengenalnya sejak kami sama-sama duduk di bangku kuliah Universitas Islam 45, Bekasi. Kami satu jurusan dan satu kelas. Karena cocok dengan sifatnya yang easy going dan periang itu, lama kelamaan kami menjadi sahabat dekat. Entah kenapa, sejak pertama bertemu dengannya aku tertarik pada Lia. Dia baik, suppel, gampang bergaul dengan semua orang. Dia juga tidak pernah memilih-milih teman. Mau cakep atau jelek, semua sama saja dimata Lia. Tetapi jangan bikin dia marah. Galak dan menakutkan.

Sejak kuliah di Unisma Bekasi, Lia tidak lagi tinggal bersama orang tuanya di Bogor. Terlalu jauh jika harus pulang pergi Bogor-Bekasi. Ia sekarang tinggal di sebuah rumah kontrakan di daerah Harapan Jaya, Bekasi.  Walaupun terkesan kenes dan manja, tetapi menurutku dia gadis pemberani.  Buktinya Lia berani jika harus berangkat kuliah dari kediaman orang tuanya di Bogor tanpa harus diantar siapapun. Dia juga  berani hidup mandiri dengan berpisah dari orang tuanya. Dia mengaku kalau cucian kotornya segunung. Mungkin dia terlalu sibuk sehingga tidak sempat untuk mencuci pakaiannya.

Biru adalah warna kesukaannya. Makananan favoritnya yaitu soto. Lia  juga memiliki seorang pacar  dan dia sayang pada lelaki itu. Namanya Dimas Randu Pratama. Aku lihat mereka saling mencintai. Hubungan mereka sudah berjalan selama tiga tahun. Artinya sejak dia duduk di bangku SMA. Lia mempunyai panggilan sayang untuk pacarnya yaitu si Item. Dimas tidak marah dipanggil begitu. Mereka memang pasangan yang kompak dan serasi. Karena ulah Lia itu, kami jadi ikut memanggilnya si Item pula.

Meski sudah punya pacar, Lia tetap dekat dengan aku dan teman-temannya. Kadang-kadang dia melakukan hal yang konyol. Entah mungkin karena kesiangan atau karena terlambat, dia pernah tidak mandi untuk ke kampus. Tidak hanya sekali, tetapi berkali-kali. Untung saja ia berkulit putih dan berwajah cantik. Jadi ia tetap terlihat menarik walaupun ia tidak mandi.

Aku dan Lia memiliki tubuh yang sama-sama kurus. Itu membuat kami menjadi bahan ledekan ketika ada angin kencang. Mereka bilang kami bisa terbang  dan terbawa angin. “Fiiuuuh ......” itu kata-kata yang sering Widya ucapkan kepada kami berdua saat meledek kami. Menirukan suara angin bertiup. Widya adalah teman kami seangkatan juga. Walaupun begitu kami tetap senang, tak pernah ada benci diantara kami.Ya, kami punya geng yaitu aku, Lia, Widya, Eva, dan Danik begitu dekat. 

Kami berlima hampir selalu mengerjakan apapun bersama. Aku dan Lia mendapat julukan “Tim Hore” karena kami yang paling ramai diantara mereka. Lia selalu tertawa walaupun sedang dalam kesusahan. Aku sangat menyukai Lia. Meski begitu, kami juga tetap berteman dengan yang lain. Kami kemana-mana berlima mungkin karena kecocokan dari awal saja. Tidak berarti membatasi pertemanan.

Senin, 28 Maret 2011

Eva Rosdiana : Setegar Batu Karang

Eva Rosdiana
Eva Rosdiana namanya. Dia teman yang saya kenal sebagai gadis yang baik hati, cantik, periang dan tidak sombong pula. Eva juga gadis yang penuh sopan santun sehingga banyak yang suka berteman dengannya. 


Eva anak ketiga dari empat bersaudara dari pasangan Arjam dan Upi Umayah. Dia dilahirkan di Majalengka, Jawa Barat pada 19 Maret 1992. Dari empat bersaudara ini, hanya seorang laki-laki sedangkan lainnya perempuan. Dia dibesarkan di Majalengka dan bersekolah sejak TK, SD, SMP dan SMA di kota kabupaten tersebut.


Eva termasuk murid yang menonjol prestasinya di sekolah. Selama bersekolah di SD ia termasuk murid berprestasi karena sifatnya yang aktif dalam kelas bahkan selalu dapat masuk ke dalam 10 besar di kelasnya. Lulus SD diapun melanjutkan ke SMP Negeri 1 Sukahaji, Majalengka. "Saat itu yang saya rasakan, persaingan untuk memperebutkan juara kelas sangatlah ketat," kenang Eva. 


Namun dia tetap berusaha untuk selalu memberikan yang terbaik untuk kedua orangtuanya. Rasa cemas dan khawatir datang ketika hari pengumuman lulus SMP. Namun seketika perasaan itu lenyap setelah mendapatkan hasil bahwa dirinya telah lulus dengan nilai-nilai yang sangat memuaskan. 


Sayang, kehidupan keluarganya yang harmonis mulai terganggu saat dia duduk di bangku SMA itu. Konflik di keluarganya itu muncul saat dia duduk di bangku kelas tiga SMA. Ayah dan ibunya mulai sering bertengkar. Saat itu dirinya sedang menghadapi Ujian Nasional. Namun dia tetap tegar, dan berusaha mengerjakan soal-soal ujian sesuai kemampuannya. Meski saat itu suasana di rumahnya tidak mendukung. Ayah dan ibunya ribut terus.

Rasa khawatir tidak lulus ujian selalu membayanginya saat itu. Konsentrasi Eva nyaris buyar. Namun dia tetap berusaha mengendalikan diri. Berat memang. Semua menjadi kacau dan berantakan karena sikap kedua orang tuanya. Sikap sang ayah mulai berubah dan  sudah tidak lagu peduli pada keluarga, termasuk anak-anaknya. Namun Eva meneguhkan dirinya. Dia tetap tegar bak batu karang dalam menghadapi kenyataaan itu.


Dan begitulah. Eva berhasil mengatasinya. Dengan susah payah dan kerja keras, dia berhasil lulus dan mendpatkan nilai Ujian Nasional (UN) yang cukup memuaskan. Tadinya dia berniat melanjutkan kuliah di Universitas Padjajaran, Bandung. Namun impiannya tersebut sulit terwujud mengingat konflik dalam keluarganya yang belum terselesaikan. Tak ada yang bisa diharapkan, baik ayah maupun ibunya.


Akhirnya setelah difikir masak-masak, Eva memutuskan untuk tinggal bersama kakak perempuannya yang saat itu sudah bekerja di Bekasi. Dia sendiri tadinyaa ingin bekerja juga menuruti jejak kakaknya dan mengubur keinginannya untuk melanjutkan kuliah. Sang kakak yang faham dengan otak cemerlang sang adik merasa iba. Diam-diam dia juga mengerti kemauan terpendam adik yang dia sayangi itu. 


Kakaknya inilah yang kemudian mendaftarkan Eva untuk kuliah di salah satu universitas swasta di Bekasi. Awalnya Eva menolak tawaran kakaknya untuk melanjutkan kuliah. Namun karena niat kakaknya yang tulus itu, maka Evapun luluh. Sang kakak tampaknya mempunyai harapan agar masa depan adiknya lebih terjamin. Biaya kuliah? Semua ditanggung oleh sang kakak yang memang sudah mempunyai penghasilan sendiri. 


Eva kemudian berpamitan dengan kedua orang tuanya di Majalengka. Di luar dugaan, adik bungsunya yang dekat dengan Eva juga ingin mengikuti. Dia memutuskan untuk pindah sekolah ke Bekasi dan tinggal bersama kakak-kakaknya. Mereka merasa orang tuanya juga sudah acuh tak acuh serta tidak lagi mau memperhatikan hidupnya di Majalengka. Jadilah kakak beradik itu merantau ke Bekasi.


Meski demikian, Eva tetap sayang pada ayah dan ibunya. "Mereka tetap orang tua saya yang mesti saya hormati dan sayangi," tegasnya. Begitulah Eva. Meski disakiti dan dia merasa orang tuanya tidak lagi diperhatikan kehidupannya, dia tetap hormat dan tetap menyayangi kedua orangtuanya. Dia juga selalu memaafkan kesalahan mereka dengan lapang dada. Ia hanya bisa berdoa agar Tuhan memberi jalan yang terbaik bagi keluarganya.


Eva yang saya kenal tetap bersemangat dan ceria dalam menjalani hari-harinya. Dia benar-benar gadis setegar batu karang. Selalu berusaha menjadi dan memberikan yang terbaik untuk orang-orang yang disayanginya.


Penulis : Danik Isnawati 

Danik Isnawati : Gadis Jawa nan Bersahaja

Danik Isnawati
CANTIK, ramah dan bersahaja. Itulah kesan saya pada Danik Isnawati, salah satu dari teman saya di Kampus Unisma, Bekasi. Buat saya, dia teman yang baik. Menurut Danik, dia dilahirkan di Desa Tawang Rejo, Wonogiri, Jawa Tengah pada 23 Agustus 1992 dari pasangan Loso Priyanto dan Cahyati. 

Dia puteri sulung dari dua bersaudara. Adiknya bernama Cahya Pratiwi yang akrab dipanggil Icha.  Kepada saya, Danik mengaku bersyukur dilahirkan dalam sebuah keluarga yang bahagia. "Meski kami hidup sederhana, tetapi kami saling menyayangi satu sama lain," kata Danik.

Dia mengaku betah dengan suasana rumah  yang dihuni keluarga kecilnya itu. Danik juga tidak mau neka-neko, dia memilih untuk menikmati hidup dengan cara yang sederhana. Sehari-hari dia cuek meski dalam pergaulan tetap suppel. Ini membuat Danik memiliki banyak teman, baik perempuan maupun lelaki. Bisa jadi karena selain cantik, Danik juga mempunyai kepribadian yang menarik. Menyenangkan.

Saya ingin bercerita sedikit soal kota kelahiran Danik, Wonogiri. Dari data yang ada, Wonogiri merupakan kota kabupaten di Jawa Tengah. Kota Wonogiri terletak di sebelah selatan kota Solo, kurang lebih 32 kilometer dan merupakan ibukota dari Kabupaten Wonogiri. Secara harfiah, Wonogiri berarti Hutan di Gunung (bahasa Jawa). Bagian utara wilayah kabupaten ini berbatasan dengan Kabupaten Karanganyar dan Kabupaten Sukoharjo, bagian selatan langsung di bibir Pantai Selatan, bagian barat berbatasan dengan Wonosari di provinsi Yogyakarta, sedangkan bagian timur berbatasan langsung dengan Provinsi Jawa Timur, yaitu Kabupaten Ponorogo dan Kabupaten Pacitan. Luas kabupaten ini 1.822,37 km² dengan populasi 1,5 juta jiwa.


Keluarga Danik saat ini tinggal di salah satu daerah di Bekasi. Menurut saya, mereka keluarga yang baik dan ramah. Kepribadian yang juga muncul pada Danik. Biasanya keluarga dari suku Jawa, apalagi dari daerah sekitar Solo sangatlah taat pada aturan. Kental dengan adat istiadat Jawanya. Begitu juga dengan Danik. Sepengetahuan saya, keluarganya seperti itu pula. Namun tidak kaku.

Danik bilang pada saya, bahwa orang Wonogiri itu mempunyai ambisi yang kuat, rajin dan ulet. Watak lainnya dari orang Wonogiri adalah pemberani, penurut dan mudah di perintah oleh pemimpin. Meski begitu, ada sedikit perbedaan antara orang Wonogiri yang tinggal di Utara, Barat, Selatan maupun Timur. Keluarga Danik sendiri berasal dari Wonogiri Utara.

Menurut Danik, orang Wonogiri dari bagian utara umumnya kuat secara jasmani maupun rohani. Mereka juga senang bergerombol atau ngumpul-ngumpul, suatu sifat yang amat positif dalam menggalang kesatuan dan persatuan. Sedangkan di bagian selatan umumnya sulit diatur, mudah tersinggung dan agak longgar dalam tata krama sopan santun. Jika di dekati adakalanya mereka kurang mau menghargai, tetapi ketika mereka dijauhi akan merasa sakit hati. "Kita harus pandai-pandai membawa diri," ujarnya.

Penulis : Eva Rosdiana

Fauziah Cahyani : Senang Negeri Ginseng

Fauziah Cahyani
Ini cerita tentang sahabat saya. Fauziah Cahyani, namanya. Sosok unik yang membuat saya bersyukur pada Tuhan karena diberi kesempatan telah mengenalnya. Panggilan akrabnya Fauz.  Adapun nama panjangnya itu bermakna Cahaya Kemenangan. Sayang dia tidak bersedia menjelaskan mengapa akhirnya nama itu disematkan pada dirinya oleh orang tuanya.

Tetapi buat saya, Fauz memang benar-benar bak cahaya para pemenang. Betapa tidak. Gadis kelahiran 21 Oktober 1992 ini adalah peraih beasiswa Fullbright di Unisma, Bekasi. Gadis periang asal Indramayu ini sekarang menetap di Rawalumbu, Bekasi bersama paman dan bibinya.
Semester lalu Fauz selalu pulang kampung ke Indramayu pada saat liburan kuliah atau tanggal merah.  Dan bila kembali ke Bekasi, dia selalu membawa oleh-oleh untuk saya, sahabatnya. Baru-baru ini, orangtuanya baru saja pindah ke Tangerang., kota di sisi sebelah barat Jakarta. Karena itu, dia kini pulang seminggu sekali ke Tangerang. Kali ini tanpa membawa oleh-oleh. "Kapan dong saya dibawakan lagi oleh-oleh," ujar saya pada Fauz, setengah bercanda.
Yang menarik, Fauz punya kegemaran unik. Dia dikenal sebagai Korean Lovers.  Ya, sahabat saya ini senang segala sesuatu yang berkaitan dengan negeri ginseng itu. Bayangkan saja. Fauzi bisa membeli beberapa majalah dalam minggu yang sama apabila majalah tersebut membahas drama atau aktor korea yang sedang dia suka. Hobi uniknya ini membuat saya sering menggoda dia. Tetapi dia tidak pernah marah. Benar-benar asli Korean Lovers.

Bahkan musisi kesukaannya juga masih terkait Korea. Dia menyukai SM*SH BLAST! Iya, dia terpesona dengan boyband SM*SH yang style-nya juga seperti boyband Korea.  Tetapi adalah salah satu kegemaran Fauz yang lepas dari budaya Korea yaitu Harry Potter. Dia menyukai novel dan film-film Harry Potter. Hebatnya lagi, dia hafal mantera, nama tokoh, dan segalanya tentang Harry Potter.  Fauz memang fans berat penyihir karya penulis Inggris J.K. Rowling ini. Seolah-olah, Fauz bersekolah di sekolah sihir Hogwarts layaknya Harry Potter. Lewat dunia maya tentunya.
Mau tak mau, saya juga kerap berterima kasih kepada Fauz. Betapa tidak. Dia sering memasok kebutuhan logistik saya dikampus. Maksudnya, pada beberapa kejadian, selalu ada kebetulan yang membuat saya bersyukur pada keberadaan Fauz. Suatu kali, saat  sedang  dahaga dan butuh minum dia  langsung mengeluarkan botol minuman dari tasnya. Kali lainnya lagi, saya  lupa sarapan dan merasa lemas maka tanpa basa-basi dia menawarkan saya makanan yang dia bawa dari rumah.  Duh baiknya. Bahkan  pernah saat sedang flu, dia siap sedia dengan tisunya.  Benar-benar mengagumkan. Isi tasnya begitu lengkap.
Fauz juga saya kenal sebagai gadis yang suka membantu orang lain. Meski baru enam bulan ini saya mengenalnya cukup dekat, ternyata dia orang yang bisa saya percayai. Pernah saya berhalangan menyerahkan tugas saya, maka dia akan dengan senang hati membantu menyelesaikan urusan saya itu tanpa meminta imbalan apapun.
Fauz juga dikenal sebagai sosok yang cerdas dan rendah hati. Meski kalau itu saya sampaikan padanya maka mukanya bersemu merah. Malu tersipu-sipu. "Saya nggak sehebat itu kok. Saya gadis yang biasa saja," ujar Fauz membantah. Betapapun itu dia bantah, tetapi saya kerap membuktikan sendiri. Apabila saya sedang panik dengan masalah-masalah saya, Fauz terbukti bisa diandalkan. Dialah yang segera bertindak membantu menyelesaikannya. Dia memberi solusi  dengan celetukan-celetukan yang cerdas.
Satu penanda bahwa dia cerdas tentu saja Indeks Prestasinya. Semester lalu dia mendapat IP  yang nyaris sempurna. Kalau dia berusaha lebih keras lagi, tak mustahil IP sempurna berhasil diraihnya. Saya mengagumi kehebatannya. Banyak orang menganggap Fauz pendiam. Ibarat gong, tidak berbunyi saat dipukul. Mungkin saja benar. Saya  sendiri selalu menantikan ucapannya yang jarang sekali keluar itu. Akan tetapi saat terucap, sarat ilmu.
Itulah dia tulisan tentang sahabatku, Fauziah Cahyani. Saya berharap dapat mengambil pelajaran dari setiap teman yang saya kenal. Saling belajar, menolong, dan membangun persaudaraan. Sebagaimana seorang bijak pernah mengatakan : “Seseorang akan kuat bersama dengan teman-teman yang saling menasihati dalam kebenaran, kebaikan, kesabaran, dan kasih sayang.”(Syaikh Alim Al Hilaly). Begitulah. (Jessi Carina)

Tasya Putri Nosar : Berusaha Hidup Sehat

Tasya Putri Nosar dan Keponakannya, Aisyah
Kesehatan itu penting. Tampaknya itulah yang menjadi prinsip hidup Tasya Putri Nosar. "Hidup sehat mulai dari kesadaran kita sendiri,”, ujar Tasya (27/3) kepada saya dalam satu kesempatan percakapan melalui internet. Gadis kelahiran Jakarta 13 Agustus 1990 ini punya nama lengkap Mustasyar Putri Nosar. Saat ini dia masih aktif dan terdaftar sebagai mahasiswi kedokteran di FK Universitas Abulyatama, Banda Aceh.

Sebagai mahasiswi, dia begitu sibuk dengan jadwal kuliah yang super padat. Tetapi bukan berarti dia abai  pada kesehatannya.  Apalagi dia perantau di tanah rencong. Dia harus senantiasa  memperhatikan gaya hidup dan asupan gizinya. “Kalau di rumah, biasanya ada Bunda yang selalu memperhatikan saya. Tapi kalau di Banda, saya harus pandai menjaga diri sendiri,” tuturnya.

Pagi hari sebelum pergi ke kampus, Tasya mengharuskan dirinya untuk sarapan pagi. “Sarapan pagi sangat penting untuk menjaga konsentrasi selama kuliah. Biarpun anak kost, asupan makanan harus diperhatikan. Saya biasanya menyiapkan sarapan, walaupun hanya sekerat roti,” ujar gadis yang menyukai warna ungu ini.

Keseimbangan konsumsi vitamin ataupun suplemen juga  perlu dijaga. Maklumlah, terkadang asupan makanan tidak cukup memenuhi kebutuhan vitamin dan mineral tubuh kita. Jika kurang, daya tahan tubuh pun melemah. Akibatnya tubuh kita mudah terserang penyakit. Dia biasa mengkonsumsi suplemen antioksidan yang mengandung vitamin B kompleks, C, E, selenium dan mineral lain. Dari informasi yang dia peroleh, antioksidan berperan mencegah penuaan sel akibat buruknya keadaan lingkungan perkotaan. Polusi dapat mempercepat penuaan sel tubuh kita.

Yang menarik, dia ternyata tidak anti cemilan yang kerap dijauhi karena dianggap tidak sehat. “Cemilan tidak selamanya buruk lho,” ujarnya, serius. Soal cemilan ini, Tasya memilih yang dianggapnya sehat,. Misalnya saja buah-buahan. Jadi, sembari menunggu jam kuliah, Tasya biasanya suka makan rujak. “Intinya saya sangat doyan makan. Saya tidak punya pantangan makan. Tapi, saya selalu mengusahakan makan buah atau sayur walaupun sedikit setiap harinya”, ucapnya.

Bisa jadi karena doyan buah-buahan itu, dia jarang mengeluh soal pencernaan yang tidak lancar. Kulitnyapun terlihat halus berseri. Satu hal yang dia akui kurang baik adalah jarangnya dia berolahraga. "Itu kejelekan saya, hehehe ....” ucapnya malu-malu. "Tapi jangan salah, mencuci dan membereskan kamar kost juga memakan banyak kalori, kan?” canda gadis campuran Takengon, Sunda dan Jawa ini kepada saya.

Selain itu dia berpendapat bahwa menjaga keseimbangan pikiran juga sangat penting. Tujuannya agar bisa terhindar dari stres dan kejenuhan aktivitas. “Musik lawas romantis jaman dulu bisa membuat saya  merasa tenang,” ujar gadis yang mengaku amat menyukai tim sepakbola Real Madrid  asal Spanyol itu.

Tasya juga menyukai lagu-lagu berbahasa latin seperti No Me Ames. Ia saat ini giat mempelajari bahasa latin. Untuk apa? “Saya ingin sekali suatu saat pergi ke Madrid. Terus bertemu dengan idola saya, Iker Casillas. Saya ingin berbincang banyak dengan Casillas. Oleh karena itu saya ingin menguasai bahasa latin sebaik-baiknya,” ujar gadis berkerudung ini penuh semangat.

Tasya juga amat menyukai studinya di bidang kedokteran. Menjadi dokter adalah impian besarnya sejak kecil. Maklumlah kehidupan masa kecilnya hingga dewasa dilewatkannya di daerah Perumnas III Bekasi. Kemudian pada 2005 sampai 2008 dia menjadi siswa di sekolah farmasi Direktorat Kesehatan Angkatan Darat. “Saya sangat menyukai pelajaran farmakologi,” ucapnya. Lulus sekolah farmasi, dia memutuskan untuk melanjutkan bangku kuliah di Aceh dan mengambil jurusan kedokteran. Saat ini ia tinggal di Ulee Kareng, Banda Aceh.  “Suatu hari saya akan pulang dari perantauan dan akan membawa gelar dokter. Saya ingin menjadi dokter anak yang profesional kelak,” ujar Tasya. (widyadarma)

Rabu, 23 Maret 2011

Panglima. Komunikasi : Sebuah Pengantar

Bumi berputar. Generasi berganti.

Begitulah juga yang terjadi di lingkungan jurusan Ilmu Komunikasi Fakultas Komunikasi, Sastra dan Bahasa Universitas Islam 45 Bekasi. Blog ini menandai pergantian generasi tersebut. Blog ini memuat karya para mahasiswa Ilmu Komunikasi Unisma Angkatan 2010.

Semua karya tersebut dikumpulkan dan diabadikan melalui blog ini. Harapannya tentu saja menjadi arena belajar bersama yang efektif sekaligus kenangan bagi kelas ini sepanjang masa.

Tetaplah semangat.