Pages

Tampilkan postingan dengan label Liputan Tempat Publik. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Liputan Tempat Publik. Tampilkan semua postingan

Selasa, 03 Mei 2011

Halte UNISMA




Halte UNISMA merupakan salah satu halte yang cukup ramai di kota Bekasi. Mengapa dinamakan Halte UNISMA karena letak halte ini tepat diseberang kampus Uiversitas Islam “45” Bekasi, tepatnya di Jalan Cut Meutia. Wajar saja jika halte ini ramai, karena halte ini dekat dengan perempatan jalan yang selalu ramai dengan kendaraan roda dua dan roda empat yang melintas setiap harinya. Mulai dari sepeda motor, mobil pribadi, angkutan kota (angkot), Elf, mini bus, sampai bus antarkota melintas di jalan ini.
Ibu Dedeh di depan Warungnya
Tidak heran juga jika banyak orang yang memanfaatkan halte ini sebagai ladang mencari uang. Seperti Ibu Dedeh yang sudah berjualan disekitar halte ini selama 7 tahun. Pelanggannya kebanyakan dari supir angkot yang sekedar membeli miniman atau rokok di warungnya. Walaupun penghasilan yang didapatnya tidak seberapa, tapi cukup untuk memenuhi kehidupannya. Agar dapat berjualan disana, Bu Dedeh harus meninta izin kepada Satpol PP dan Satpam Balai Irigasi. Berbeda dengan Pak Ramid yang sudah berjualan gorengan disekitar halte ini selama lebih kurang 13 tahun. Beliau adalah perantau, dan sekarang tinggal di sebuah kontrakan dekat Balai Irigasi. Mahasiswa dan pegawai Balai Irigasi adalah yang sering membeli gorengannya. Tapi tak jarang orang-orang yang lewat pun membeli gorengannya.
Tempat sampah disekitar halte
Mengenai keamanan, kenyaman, dan kebersihan halte ini cukup memadai. Di halte ini terdapat tiga buah tempat sampah yang berbeda untuk isinya. Tapi sepertinya pengguna halte dan sekitarnya tidak terlalu memperdulikannya, yang penting sudah membuang sampah pada tempatnya. Menurut Safitri, mahasiswa Unisma FAI menyatakan bahwa halte UNIsMA ini terbilang aman karena selama ini dia belum pernah mendengar apalagi mengalami tindak kriminal disekitar halte. Tapi dia merasa tidak nyaman dengan banyaknya coretan-coretan di tembok halte. Dia juga sangat menginginkan pemerintah daerah memperhatikan ini, dan segera diperbaiki.
Semua pihak turut andil dalam menjaga keamanan, kenyamanan Halte UNISMA. Baik pengguna halte, pedagang disekitar halte, dan Pemerintah Daerah Bekasi. (Fauziah Cahyani)

Rabu, 20 April 2011

Pahlawan Tanpa Tanda Jasa

Namanya bapak Agus beliau adalah guru matematika di smaku SMA WIDYAKUSUMA Cileungsi,beliau sudah mengajar di sekolah sma ku ini dari angkatan pertama hingga sekarang.saya salut dengan beliau karena beliau yang sangat mahir matematika tetapi beliau membagi ilmunya itu kepada anak-anak yang ingin sekali menguasai matematika.
 
Aku ingat suatu hari ada seorang aloemnie yang dateng ke sekolahku hanya ingin diajarin matematika sama beliau,beliau selalu berkata “ Matematika itu makin dihitung makin sulit “,maka dari itu beliau selalu memberi formula atau rumus singkat untuk mengerjakan matematika dengan mudah dan santai,beliau sosok yang sangat cinta dengan keluarganya.beliau memiliki anak yang sudah kuliah semester akhir dan ada yang masih sekolah dasar.beliau tidak pernah memaksakan anak-anaknya untuk pintar matematika.
Sosok beliau yang sangat humoris ini membuat para murid dengan santai mengikuti pelajaran beliau,karna itu lah murid tidak pernah merasa tegang saat peljaran beliau.beliau aloemnie institut sepuluh november jurusan statistika ini sangat suka mengajar matematika dan soal yang berhitung,bagi beliau yang lahir pada 12 agustus 1958 menjadi guru itu mulia dan mendapatkan banyak pahala.
Sosok beliau yang sederhana mengungkap nbagaimana mulianya menjadi sebagai guru yang selalu berbagi ilmu kepada muridnya setiap hari..

Selasa, 19 April 2011

Si Penjaga Lalu-Lintas


     Anggota Satlantas Polresta Bekasi kota yang bertugas untuk mengatur laluli lntas menyatakan bahwa pelanggaran lalu lintas yang terjadi akibat pengemudi yang tidak tertib.
    Tri Widianto (29) seperti yang di wawancarai pada senin (18/04) ,menyatakan bahwa pelanggaran dalam lalu lintas banyak di langgar oleh pengguna sepeda motor. Contohnya, tidak memakai helm,menyarobot lampu lalu lintas dan tidak lengkap surat-surat mengemudi. Apabila polisi melihat pengendara yang tidak lengkap,maka polisi akan menilangnya.
      Tri Widianto menjelaskan, pembayaran sanksi pelanggaran dilakukan pada saat sidang bukan pada saat ditilang.selain menilang  polisi juga mengadakan razia sebulan penuh,seperti tgl 17-18 maret diadakan razia besar-besaran di daerah Giant,BCP,Kayu ringgin,bulan-bulan,proyek,pintu terminal,rawa semut,rawa panjang,pekayon,bulak kapal,perempatan bendungan,simpang lima dan jati bening.
      Di tambah pula pengemudi angkot yang sembarangan mangkal di pinggir jalan. sehingga dapat menimbulkan kemacetan.contohnya, di jalan Choirul Anwar dekat pos polisi kalau tidak di jaga polisi banyak angkot yang mengetem,sedangkan kalau ada polisi angkot tidak berani mangkal.karena masalah itu,polisi harus lebih bekerja keras lagi untuk mengaturnya.
      Pos yang paling susah ditanggani masalah lalu lintas adalah di Bulan-bulan,karena terdapat jalur kereta api.strateginya di tempatkan di tempat-tempat pangkalan angkot dan menaruh petugas yang lebih banyak di pos yang susah di atur.biasanya jam kerja polisi di bagi menjadi 2 shift, pertama jam 5-2 siang dan kedua jam 2 -10 malam.
     Pesan polisi kepada para pengguna jalan adalah sebelum mengendarai kendara motor maupun mobil siapankan selalu surat-surat mengemudinya dan perlengkapan mengendara ,seperti helm bagi yang menggunakan motor dan bagi pengguna mobil pake shetbell.patuhi rambu-rambu lalu lintas yang ada jangan melanggarnya ,untuk pengguna angkot sebaiknya menyetopkan mobilnya jangan sembarangan dan juga supir-supir angkot jangan mangkal bukan pada tempatnya yang membuat kemacetan.
                                                                                                                                   By: Lia Deviyanti

Futuh : Ujian Nasional? Siapa takut

Ujian Nasional segera tiba. Pagelaran akbar ini mau tidak mau harus diikuti para pelajar yang akan melanjutkan jenjang pendidikan ke tahap yang lebih tinggi. Ujian Nasional dari dulu menjadi momok yang menakutkan bagi para pelajar , tetapi tidak bagi gadis cantik kelahiran Bekasi, 14 Juni 1993 ini.  Futuh panggilan akrabnya, gadis pecinta makanan kebab ini mengaku tidak terlalu takut menghadapi ujian kali ini. Baginya jika Ujian Nasional dibawa takut hanya akan menyebabkan stres sehingga dapat mempersulit peserta dalam menjawab soal-soal. “Pokoknya UN tahun ini beda banget, tapi dibawa santai aja” ujarnya ketika ditemui disela-sela kesibukannya mempersiapkan UN.
Siswa yang bersekolah di SMK Negeri 3 kota Bekasi ini terlihat tidak terlalu tegang ketika ditemui sehari sebelum pelaksanaan UN. Ia justru asik belajar di taman , di daerah Kemang Pratama sambil sesekali memakan cemilan yang ia bawa . “Belajar bisa dimana aja, nggak harus di kamer sambil tutup pintu rapat-rapat” jawabnya ketika saya menananyakan mengapa ia belajar di tempat terbuka seperti ini.
Ujian Nasional kali ini dimata Futuh benar-benar berbeda dari pada tahun sebelumnya, dengan variasi soal yang lebih banyak menjadi 5 paket. Tahun lalu yang hanya 2 paket saja sudah sangat menakutkan bagi para pelajar apalagi 5 paket yakni paket 13, 25, 39, 46, dan 54. Walaupun begitu Futuh tidak terlalu mempermasalahkan itu karena Ia merasa mampu untuk mengerjakan soal-soal tersebut.
Dengan 5 paket ini diharapkan para siswa tidak bisa saling mencontek karena dalam satu kelas hanya ada 4 siswa yang mendapatkan paket soal yang sama dan itu pun letaknya tidak berdekatan. Standar nilai kelulusan Ujian Nasional tahun ini yakni 5,50, masih bisa dibilang dibandingkan negara-negara lain. Tetapi untuk mencapai standar nilai 5,50 cukup sulit dan perlu usaha keras.
Usaha selama 3 tahun belajar dengan keras hanya ditentukan dengan ujian yang hanya beberapa hari saja. Apalagi UN tahun ini tidak ada UN ulangan. Pemerintah pun menghimbau kepada para siswa agar tidak percaya terhadap bocoran. “Aku sih ngga terlalu percaya sama bocoran, aku lebih percaya sama jawaban aku sendiri” tutur Futuh.
Futuh mengaku dirinya tidak belajar terlalu keras tetapi ia rutin dalam belajar sehingga Ia merasa sudah siap mengahadapi Ujian Nasional kali ini. “Kalau persiapan aku sih udah mateng, ngga usah belajar keras yang penting rutin” ujarnya. Bahkan sebelum UN ia tidak belajar tetapi istirahat dan refreshing, agar otaknya fresh dan tidak tegang.

Ketika ditanya akan melanjutkan ke perguruan tinggi mana, Ia menjawab tujuan utamanya ingin sekali masuk STAN, tapi berhubung masuk STAN cukup sulit maka Ia mencari cadangan lain yaitu  Politeknik Negeri Jakarta jurusan akuntansi. Ia sudah mengikuti try out di STAN dan ia lolos tetapi itu baru try outnya saja. Futuh juga sudah mengikut tes masuk PNJ melalui jalur PMDK, dan sekarang hanya menunggu pengumumannya saja. Futuh tidak hanya terpaku pada STAN dan PNJ saja. Ia juga sedang mengikuti tes bea siswa di ITB. Ia dinyatakan lolos pada tes akademik dan mendapatkan peringkat 25 dari lebih 500 siswa berprestasi untuk wilayah Bekasi. Tidak hanya tes akademik, Futuh juga  mengikuti tes selanjutnya, yakni tes wawancara yang akan diumumkan akhir bulan April ini. “Nanti tanggal 1 Mei aku mau ikut try out STAN lagi” ujarnya, sekaligus mengakhiri pembicaraan kami di sore hari yang indah itu.

 Oleh : Anggi Istiqomah

Bunga dan Caca : Kecil-kecil Pemberani

Bunga dan Caca tampak begitu ceria saat ditemui Minggu (17/4) di Sanggar Balarenik. Kedua anak kecil yang lincah ini sangat bersemangat mengikuti kegiatan belajar bersama kakak-kakak relawan. Wajah mereka bersinar gembira, tak nampak sekali lelah ataupun mengeluh. Bunga dan Caca adalah dua dari anak asuh Yayasan Balarenik.

Bunga (kiri) dan Caca (kanan)
Yayasan Balarenik terletak di Jalan Pahlawan Komaruddin, Cakung Penggilingan - Jakarta Timur. Yayasan ini mempunyai beberapa kegiatan. Ada Rumah Singgah Balarenik untuk anak-anak jalanan yang sudah tidak mempunyai rumah atau keluarga lagi. Ada Sanggar Balarenik setiap Minggu pagi untuk anak-anak lingkungan sekitar Jalan Pahlawan Komaruddin. Kemudian ada PAUD Balarenik untuk anak-anak usia 3 - 4 tahun yang diadakan tiga kali dalam seminggu.

Bunga dan Caca selalu ceria


Bunga (8 tahun) dan Caca (6 tahun) sudah bergabung dengan Yayasan Balarenik sejak tahun 2008. Di kala itu Caca masih sangat kecil. Mereka berdua disarankan oleh ibunya agar mengikuti kegiatan di Balarenik. Kakak beradik yang sekolah di SD Negeri 015 Petang Pulogebang sangat senang bergabung bersama Balarenik. "Soalnya aku punya banyak teman disini", ujar Caca dengan polosnya.

Wajah ceria mereka ternyata menyimpan kisah menarik sekaligus menyedihkan. Bunga dan Caca tidak mengenal siapa ayah mereka. Menurut informasi dari tetangganya, ibunda Bunga dan Caca bekerja di sebuah klub malam dan jarang pulang, "Kalau malam, kita tidur berdua di rumah. Aku yang jaga Caca", ucap Bunga. Namun Tuhan selalu melindungi mereka. Kedua anak ini pun menjadi pemberani. "Aku ga pernah takut sama setan kak, aku kan bisa mengaji" pamer si kecil, Caca.

Untuk makan, mereka dibantu oleh neneknya, yang tinggal tak jauh dari rumah kontrakan Bunga dan Caca. Neneknya yang juga seorang tukang cuci dan setrika baju senantiasa menyiapkan makanan untuk kedua bidadari kecil ini, jikalau ibunda mereka tak kunjung pulang.

Bersama Bunga
Bunga dan Caca rajin hadir pada kegiatan Sanggar Balarenik setiap Minggu pagi. Menurut mereka, sangat menyenangkan bergabung di sanggar ini. "Kita bisa main sama kakak-kakak (relawan), bisa belajar bersama, punya banyak teman, kadang juga diajak jalan-jalan" jelas si ikal, Bunga. "Aku paling suka waktu jalan-jalan ke Monas, kak" sahut Caca bersemangat. "Kalau aku suka waktu jalan-jalan ke Museum Gajah. Soalnya adem di museumnya" sahut Bunga tak mau kalah.




Namun ada juga sedihnya bergabung di Sanggar Balarenik. "Kadang teman-temannya ada yang nakal" ujar Bunga. "Aku sedih kalau sudah datang ke sanggar, eh kakak-kakak (relawan) belum datang. Aku jadi ingin marah" sahut Caca. Balarenik memang sedikit menghadapi kendala dalam mencari relawan, karena tidak mudah menarik minat generasi muda jaman sekarang untuk melakukan kegiatan sosial seperti di Balarenik.

bersama Caca
Dalam keterbatasan, Bunga dan Caca tetap memiliki semangat tinggi dalam belajar. Mereka juga mempunyai cita-cita mulia. Bunga ingin menjadi seorang guru. "Aku ingin mengajar anak-anak" ujarnya sambil tersenyum manis. Caca tak mau kalah, "Kalau aku ingin sekali menjadi dokter hewan. Karena aku sangat sayang dengan hewan. Aku suka sekali dengan kelinci" jelas gadis kecil bermata sendu ini.




(Widya Darmawati)

Pos Polisi : Tempat Penegakan dan Pelanggaran Aturan


Tri Widianto, Anggota Satlantas Polresta Bekasi Kota
Anggota Satlantas Polresta Bekasi Kota, Tri Widianto (29) pada wawancara Senin (19/04) di Pos Polisi Jl. Chairul Anwar, mengatakan “ Pelanggaran lalu lintas disebabkan oleh pengemudi yang tidak teratur.”

Sebagai polisi lalu lintas yang bertugas mengatur dan melancarkan lalu lintas, Bapak Tri mengaku kewalahan dalam mengatur pengemudi angkutan umum. Polisi harus berdiri ditempat-tempat pangkalan agar supir angkutan umum tidak menetap untuk menunggu penumpang. Jika tidak, macet tidak dapat dihindari. Terkadang polisi pun suka berdiri di halte-halte untuk mencegah angkutan umum yang nge-tem, walau kenyataannya halte memang tempat untuk menaik turunkan penumpang.”Halte itu kan tempat untuk menaik turunkan penumpang, apabila supir angkot berhenti hanya untuk menurunkan atau menaikkan penumpang itu tidak masalah. Masalahnya adalah apabila supir tersebut nge-tem. Itu kan mengganggu kelancaran lalu lintas.” Jelas Bapak Tri mengenai hal tersebut. Kawasan Bulan-Bulan merupakan kawasan yang paling sulit diatur lalu lintasnya, salah satu penyebab adalah jalur kereta api yang ada disana.

Ada 14 pos polisi yang tersebar di daerah Bekasi yaitu perempatan Mega Bekasi, BCP, Kayuringin, Bulan-Bulan, Proyek, Pintu Terminal, Rawa Semut, Rawa Panjang, Jl. Chairil Anwar, Pekayon, Bulak Kapal, perempatan Bendungan, Simpang Lima Jati Bening, dan perbatasan dengan Jak-Tim. Polisi yang bertugas ditiap-tiap pos pun di rolling setiap harinya. Setiap pos terdiri dari 2 petugas, namun apabila membutuhkan lebih banyak pasukan pengatur lalu lintas, maka polisi yang sedang “longgar” di pos lain bisa membantu. Jam kerja polisi lalu lintas dibagi menjadi 2 shift, pukul 05:00 – 14:00 dan 14:00 – 22:00.

Bicara polisi lalu lintas tidak lengkap rasanya jika tidak membicarakan persoalan tilang.
”Peraturan itu kan yang membuat atasan kami, nah kita hanya menjalankan. Apabila ada pengendara yang melanggar seperti ketidaklengkapan atribut tentu harus membayar denda pelanggaran di persidangan,mba.”
“Jadi membayar saat di persidangan ya pak, bukan di tempat kejadian?”
“Bukan!”
Kenyataannya saya sendiri pernah ditilang di pos tersebut dan berhasil lolos dari sidang dengan membayar uang sebesar Rp 50.000,00. Selain menilang, adakalanya polisi memberhentikan pengendara untuk melakukan pemeriksaan atribut dan surat-surat. Razia, merupakan sebutan dari kegiatan itu dilakukan sebulan penuh pada tanggal 17-18 April.

Opini Masyarakat

Walaupun polisi melakukan tugas demi kebaikan bersama, nyatanya banyak masyarakat yang mengutarakan kekecewaannya pada polisi. “ Sampai sekarang saya ga ngerti kenapa ada peraturan lampu harus dinyalakan pada siang hari. Matahari kan sudah terang, bahkan terangnya melebihi lampu. Jika sebagai tanda bagi motor lain, ya itu tadi, motor kan pasti terlihat dibawah matahari!” ujar Dimas Luqman (20), mahasiswa Ilmu Komunikasi UNISMA. “ Itu kan yang membuat peraturan sudah dari pemerintah diatas, kami hanya melaksanakan” ujar Bapak Tri gugup saat ditanyai persoalan lampu. 

Lain lagi cerita dari Ivan, wartawan Radar Bekasi, mengenai pengalamannya saat ditilang “ Polisi itu menyebalkan, kadang dia sengaja memberhentikan kita tanpa kesalahan yang jelas. Jadinya ya mencari-cari kesalahan. Waktu itu kebetulan saya ada yang kurang, akhirnya saya bayar aja pake sebungkus rokok. Murah banget yah.”

Kenyataannya tidak semua masyarakat memiliki sikap kontra terhadap polisi. Dipo Samastama Meidianto (17), mahasiswa, menuturkan bahwa terkadang polisi harus kita hargai pekerjaannya. Terlepas dari rahasia umum bahwa polisi suka mengambil pungutan liar, mengatur lalu lintas yang ruwet sepanjang hari memang tidak bisa dianggap enteng. “Yang penting kita tertib dan menghormati dia juga.” ujar mahasiswa jurusan Teknik Informatik ini. (Oleh : Jessi Carina)

"cuma ikhlas..."

BEKASI – Pada tanggal 19 April 2011 kami berkesempatan mewawancarai pegawai staf dari Dinas Kebersihan Kota Bekasi Bapak Rusli Anwar. Bapak ini tinggal di Kelurahan Kayuringin yang tidak jauh dari tempat beliau biasa bekerja. Pada pukul 05.00 WIB beliau dan temannya langsung memulai aktifitasnya kerjanya dengan membersihkan sepanjang jalan trotoar dari lampu merah Kayuringin sampai depan GOR Bekasi, begitulah aktivitas beliau setiap harinya sampai jam 12.00 WIB.dari pekerjaannya.Beliau mengakui bahwa tiada kata libur bagi pekerjaannya,kerena seadainya libur mungkin sepanjang jalan Kota Bekasi akan banyak sekali sampah yang berserakan dan orang sekitarnya pun tidak peduli dengan sampah tersebut.
Dalam bekerja beliau disini tidak sendirian tetapi beliau ini ditemani oleh 11 staff lainnya, bisa dikatakan beliau ini senior dari temannya dikarenakan beliau ini bekarja sebagai staf kebersihan kota bekasi dari tahun 1996 – Sekarang ( 2011 ). Dalam pekerjaan tersebut selama 10 tahun beliau bekerja tiada kenal lelah walaupun hanya petugas sapu yang membersihkan sepanjang Kota Bekasi. Beliau mengakui bahwa bayaran atau gaji yang ia peroleh sangat cukup untu membiayi kehidupan dengan istrinnya dan anaknya dirumah.
Dalam pekerjaan ini pemerintah Dinas Kebersihan Kota Bekasi membagi dalam mengatur para staff kebersihan menjadi 3 shifft, yang pertama dari jam 05.00 s.d. jam 12.00 WIB, kedua dari jam 13.00 s.d. 16.00 WIB dan yang terakhir dari jam 19.00 s.d. 23.00. Dalam melaksanakan tugas seperti ini beliau mengatakan seorang pekerjaan kebersihan ini hanya membutuhkan stamina yang kuat dan peralatan yang lengkap.dengan begitu bekerja pun akan lancar dan selama ini beliau tidak adanya kendala dalam 10 tahun terakhir ini.begitu juga dengan temannya.
Ketika salah satu dari kami menanyakan kepada beliau . “ Apakah anda mempunyai prinsip dalam bekerja?”beliau menjawab .” Ya,Prinsip dalam bekerja saya adalah ikhlas.”Ucap Rusli Anwar. Dengan begitu suatu pekerjaan yang dikerjakan secara ikhlas akan begitu dalam melaksanakannnya dan pekerjaan yang berat pun akan begitu sangat mudah.




( ADIT DAN DANIK )

Sang Relawan


Hari minggu kemarin saya menemui Yuniar dan Siska Ratnadewi mahasiswa dari UNJ semester 6,Yuniar 21 tahun yang Bertempat tinggal di daerah Perum , sedangkan Siska 22 tahun tinggal di daerah Pondok kopi. Mereka salah satu Relawan yang sedang mengajar di Rumah Singgah Balarenik.

Rumah Singgah Balarenik ini adalah Tempat tinggal anak-anak jalanan dan juga tempat pendidikan dan pelatihan masyarakat sekitar. Yuniar dan Siska salah satu yang mengajar di sanggar Balarenik ini. Awalnya Yuniar atau yang sering di sapa Nia ini, melihat salah satu account Facebook salah satu dari relawan yang mengajar di Rumah Singgah Balarenik, Akhirnya Nia Tertarik dengan kegiatan sosial tersebut, Jelas Nia.

Sejak Mei 2010 Nia Menjadi Relawan yang mengajar di Rumah Singgah Balarenik. Sedangkan Siska di ajak oleh Nia, yang sama-sama tertarik pada kegiatan sosial. Siska mengatakan bahwa pendiri Rumah Singgah Balarenik ini adalah Pak Agusman, akan tetapi saya belum sempat menemui Pak Agusman Karena Beliau sibuk.

Siska mengatakan Rumah singgah Balarenik ini masih Kontrakan, Karena keterbatasan Ekonomi Pak Agusman sendiri. “Tapi sekarang Rumah Singgah Balarenik dipecah menjadi dua tempat, semenjak Rumah Balarenik ini di Jual sepihak oleh pemiliknya, jadi Rumah Singgah Balarenik mempunyai dua Lokasi Sanggarnya yang beralamatkan di Jl. Pahlawan Komanddan Cakung Penggilingan- Jakarta Timur, sedangkan Rumah Singgahnya di daerah Pulo Gebang.” Jelas Siska.


Di Sanggar itu rata-rata anak-anak yatim piatu dan anak-anak jalanan yang datang setiap hari minggu untuk mendapatkan pendidikan dan pelatihan dari para Relawan.tambah Nia.

“ saya tidak hanya tertarik pada kegiatan ssosialnya saja, akan tetapi saya juga sangat suka dengan anak kecil, saat melihat anak kecil di sanggar ini Perasaan saya sangat tersentuh dan saya sangat senang mengajar di Sanggar ini.”tegas Siska.
Di Sini saya melihat ternyata masih banyak anak-anak yang membutuhkan pendidikan, dengan adanya Rumah singgah Balarenik ini sedikitnya ada anak-anak yatim piatu dan anak-anak jalanan yang mendapatkan Pendidikan dan Pelatihan.

(Eva Rosdiana)