Pages

Selasa, 24 Mei 2011

kuliah umum "Metodologi Penelitian Sosial dalam Kajian teori kritis "

                                                              


Rabu (11/05/2011) Fakultas Komunikasi, sastra, dan Bahasa mengadakan Kuliah Umum di Gedung B 102 UNISMA Bekasi. Diisi oleh guru besar komunikasi Universitas Indonesia, Prof. DR. Ibnu Hamad.
Judul dari kuliah umum tersebut adalah "Trend Terkini Metodologi Penelitian Sosial dalam Kajian Critical Discourses Analysis” , kuliah ini di ikuti oleh mahasiswa Ilmu Komunikasi dan Sastra Inggris UNISMA Bekasi.



Awalnya saya kurang tertarik untuk mengikuti kuliah umum ini, tapi mengingat saya butuh nilai tambahan dari salah satu mata kuliah dan tuntutan tugas dari dosen akhirnya saya mengikuti kuliah umum ini bersama teman-teman, selain karna tuntutan nilai dan tugas, yang membuat saya kurang tertarik dengan kuliah ini adalah saya sama sekali tidak paham, apa yang akan dibahas karna dari judulnya saja yang rumit dari ujung kiri hingga ujung kanan dan saya tidak dapat mengerti makna judul tersebut.
Ketuka saya menanyakan pada salah satu teman, “ini mau bahas apa sih ? “ dan saat itu teman saya, Anisya yang duduk disebelah saya hanya menggelengkan kepalanya menunjukan bahwa ia juga tidak mengerti. “Critical Discourses Analysis” dari bagian judul itu saya hanya dapat menyimpulkan bahwa kuliah umum ini akan membahas tentang teori kritis, namun saya tidak mengerti seperti apa dan bagaimana tentang teori tersebut karena saya belum mendapatkan mata kulaih tersebut.
Namun ketika kuliah umum berjalan sesuai waktu, saya menjadi tertarik pada pengetahuan guru besar ini mengenai dunia komunikasi, kagum akan pengetahuan yang dimiliki beliau sehingga hal itu membuat saya bertanya dalam hati “mampukah saya untuk secerdas itu ?”
Prof Ibnu Hamad hanya menyampaikan paparan metode-metode penelitan yang terkini. Beliau menjelaskan tentang evolusi teori-teori komunikasi dari tahun 1978 oleh Fisher, sampai pengembangannya pada tahun 2007 oleh Robert Craig. Pembelajaran terebut meliputi :
• Tradisi Sosio-psikologis
• Tradisi Cybernetic
• Tradisi Rhetorikal
• Tradisi Semiotika
• Tradisi Sosio-Kultural
• Tradisi Kritikal
• Tradisi Fenomenologi
Beliau menjelakan satu per satu mengenai tujuh tradisi tersebut beserta contohnya masing-masing. Dalam kuliah umum itu, beliau juga menjelaskan sedikit tentang delapan Metode Penelitian Kualitatif, namun beliau tidak banyak menjelaskan tentang Critical Discourses Analysis mungkin karena waktunya yang tidak cukup jika dijelaskan secara detail. Dalam kuliah umum tersebut juga terjadi diskusi antara Prof Ibnu Hamad dengan beberapa dosen dan mahasiswa Fakultas Ilmu Komunikasi, Sastra, dan Bahasa.
Dalam kuliah umum itu Prof. Ibnu Hamad sempat berkata “untuk lebih jelas mempelajari mengenai ini silahkan baca buku saya ‘Komunikasi Sebagai Wacana’ yang sekarang sudah ada di toko buku “ memang agak konyol karna Prof Ibnu Hamad mempromosikan bukunya dengan nada bercanda.
Waktu menunjukan pukul 11.30 WIB dan kuliah umum ini pun selesai., padahal saya yakin masih banyak pertanyaan yang ingin didiskusikan oleh para dosen dan mahasiswa Fakultas Ilmu Komunikasi, Sastra, dan Bahasa. Dan semoga kuliah umum ini dapat bermanfaat bagi yang mengikutinya terutama bagi mahasiswa agar mampu mengaplikasikan teori-teori terebut dengan baik.






oleh : Danik Isnawati

Minggu, 22 Mei 2011

Diskusi Film : Prison and Paradise

Rabu (18/5) saya, Danik, Sahlan, Supri dan Kak Evi menghadiri pemutaran perdana film dokumenter "Prison and Paradise" di sekretariat AJI (Aliansi Jurnalis Independen) - Kalibata, Jakarta Selatan. Sepulang kuliah pukul 16.00, kami langsung menuju lokasi bersama dosen jurnalistik kami, Bapak Iwan Sams, M.Si.

Suasana Pemutaran dan Diskusi Film "Prison and Paradise"


Kami sampai lokasi pukul 17.00, sedangkan pemutaran film baru akan dimulai pada pukul 19.00. Kami akhirnya berdiskusi dahulu dengan Kak Salma dan Kak Wini, jurnalis muda di AJI. Kami berbincang tentang pers mahasiswa. Mereka memotivasi kami agar membentuk pers mahasiswa di universitas. Mereka juga dengan senang hati akan memfasilitasi kami dalam belajar jurnalistik secara gratis di AJI.

Film dokumenter berdurasi 93 menit ini disutradarai oleh Mas Daniel Rudi Haryanto. Film ini berhasil menempati jajaran film terbaik di Dubai International Film Festival 2010. Wow, satu prestasi anak bangsa yang patut diberi apresasi.

Film ini mengangkat tema terorisme yang cukup sensitif bagi masyarakat Indonesia saat ini. Mas Rudi mengangkat sisi lain dari peristiwa bom Bali di Legian tahun 2002, yaitu tentang bagaimana keluarga terdekat (orang tua, istri dan anak-anak) pelaku pemboman menjalani kehidupan mereka pasca tertangkapnya anggota keluarga mereka.

Bagaimana ayah-ayah mereka (Ali Gufron, Amrozi, Mubarok dan Imam Samudra) menjalani kehidupan di balik penjara yang mereka tidak mengerti. Qanita, Azzah dan anak-anak lainnya tidak mengerti bahwa ayah mereka adalah tersangka teroris. Bagaimana ketabahan istri-istri mereka, dan kekuatannya dalam membesarkan anak-anak.

Tidak hanya mengangkat sudut pandang keluarga pelaku, Mas Rudi juga mengangkat sudut pandang keluarga korban Bom Bali 2002. Bagaimana dampak ekonomi keluarga setelah ayah mereka meninggal akibat bom Bali, bagaimana perkembangan psikologis anak-anak pasca ayahnya wafat.

Daniel Rudi Haryanto (kiri), Sutradara "Prison and Paradise"


Yang unik dan dahsyat dari film ini adalah Mas Rudi membuat riset dan merekam film ini selama tujuh tahun. Mungkin jika saya sutradarnya, saya akan jenuh sekali hehe.. Selain itu, kehebatannya dalam menembus narasumber patut diacungi jempol. Bukan suatu hal yang mudah menembus keluarga tersangka teroris, bahkan sampai mewawancarai pelaku-pelaku teroris tersebut sebelum dihukum mati. "Saya mewawancarai mereka selama 14 jam dalam 2 hari" ujar Mas Rudi pada diskusi malam itu.

Film Prison and Paradise akan diputar di 32 kota di Indonesia. Mereka terbuka apabila ada universitas yang ingin memutar film Prison and Paradise dan berdiskusi bersama. Waa... senangnya :)

Saya merasa beruntung sekali bisa berpartisipasi dalam forum ini. Jaringan saya semakin luas, saya mengenal lebih banyak orang (terutama para jurnalis). Semoga saya bisa berpartisipasi kembali di forum-forum berikutnya. Cheers ^_^

(Widya Darma)

Kuliah Bersama Guru Besar UI

Rabu (11/5) mahasiswa Fakultas Komunikasi Sastra & Bahasa Universitas Islam 45 mengikuti kuliah umum. Judul kuliah umunya sih, agak 'menjelimet' dan bikin otak mumet. hehehe.. Judulnya "Trend Terkini Metodologi Penelitian Sosial dalam Kajian Critical Discourses Analysis" (bacanya sambil nahan napas), diisi oleh guru besar komunikasi Universitas Indonesia, Prof. DR. Ibnu Hamad. Kuliah umum ini diikuti oleh seluruh mahasiswa jurusan Ilmu Komunikasi dan Sastra Inggris UNISMA Bekasi. Kuliah umum ini diadakan di Aula FISIP - Gedung B 102 UNISMA.


Kuliah Umum bersama Prof. DR. Ibnu Hamad


Saya awalnya sangat bersemangat mengikuti kuliah ini. Awalnya hanya tahu kita akan mengkaji teori kritis. Tapi ketika melihat plotter di depan aula, otot mata ini rasanya agak sedikit berkontraksi, berhubung harus membaca tema kuliah umum dari ujung kiri ke ujung kanan (ditambah tidak mengerti maknanya).

Well, 1 jam pertama saya masih semangat. Saya kira akan sangat menyenangkan membahas teori kritis. Ternyata yang disampaikan oleh Prof Ibnu Hamad hanya paparan metode-metode penelitan yang terkini. Beliau menjelaskan tentang evolusi teori-teori komunikasi dari tahun 1978 oleh Fisher, sampai pengembangannya pada tahun 2007 oleh Robert Craig.
Kami mempelajari tentang 7 tradisi teori komunikasi (Craig : 2007), diantaranya
1. tradisi sosio psikologis
2. tradisi retorika
3. tradisi semiotika
4. tradisi fenomenologi
5. tradisi sibernetika
6. tradisi sosio kultural
7. tradisi kritikal --> harusnya spesifik membahas ini, kalau saya lihat dari judulnya.


Selain itu, kami juga diberi sedikit penjelasan tentang 8 metode penelitian kualitatif dan kunci-kunci untuk memahaminya (kalau kata Prof Ibnu Hamad sih, 'dalil'nya).

Agak sedikit kecewa, karena Prof. Ibnu Hamad tidak banyak berbicara tentang CDA (Critical Discourses Analysis) dan beliau belum bisa menjawab pertanyaan saya dengan jelas. Saya bertanya, bagaimana kita bisa menggunakan teori kritis dalam mencerna informasi (berhubung saat ini masyarakat Indonesia belum 'cerdas' menanggapi berita). Jawaban beliau terlalu terpaku dengan teori, tanpa menjelaskan aplikasi nyata di masyarakat dan dengan bahasa yang mudah dimengerti oleh orang yang 'non-komunikasi' (mengingat saat itu ada jurusan Sastra Inggris juga).

Tapi ada positifnya juga saya mengikuti kegiatan kuliah umum ini. Saya jadi 'melek' metode penelitian, dan mungkin memberikan sedikit gambaran bagi saya ketika menyusun sebuah karya ilmiah.

Selain itu, saya menjadi mengerti efek komunikasi antarpribadi. Tiga bulan lebih saya kuliah komunikasi antar pribadi, namun tak dapat 'intinya' sama sekali (atau mungkin saya yang bodoh dan malas, hehe..). Namun lewat kuliah ini saya mengerti pengaplikasian teori komunikasi antarpribadi.

Ketika Prof Ibnu Hamad menjelaskan sesuatu, saya kurang begitu mengerti. Padahal saya sudah berusaha memberikan atensi sebaik mungkin. Namun ketika dosen saya, Pak Idham Holik, menjelaskan sesuatu saya lebih bisa menangkap intinya. Disini faktor proximity ternyata berpengaruh juga dalam efektifitas komunikasi.


Prof. DR. Ibnu Hamad bersama Dekan FKSB Unisma, DR. Jarot Prianggono


Wah, senangnya dapat pengalaman baru. Semoga ada kuliah-kuliah umum selanjutnya. Semoga universitas saya selalu dapat memfasilitasi mahasiswanya dalam belajar dengan baik. Semoga saya kelak menjadi komunikolog dan public relations yang kompeten. Amin ^_^

(Widya Darma)

Rabu, 11 Mei 2011

Kemana Public Relations Pertamina?

Hai kawan-kawan, selamat datang di blog saya.. By the way, suka liat spanduk ini di SPBU Pertamina tidak?


Mungkin poster ini sudah tidak asing, dan ada di hampir setiap SPBU di wilayah Bekasi (yang saya lihat).

Hal yang ingin saya kritisi dalam masalah ini adalah pesan yang disampaikan kepada publik melalui spanduk tersebut. Disitu dituliskan :


PREMIUM ADALAH BBM BERSUBSIDI
HANYA UNTUK GOLONGAN TIDAK MAMPU



Saya melihat pesan tersebut dalam beberapa sudut pandang :
1. Sudut pandang sebagai rakyat kecil : Saya pakai Premium, saya miskin
2. Sudut pandang sebagai orang kaya : Saya ga pantes pakai premium
3. Sudut pandang sebagai mahasiswa : Kenapa subsidi tidak boleh dinikmati seluruh rakyat? Subsidi itu kan hak rakyat
4. Pakai teori kritikal : Ada apa dibalik pembatasan subsidi?

Anyway, yang paling mencolok adalah opini publik (terutama dalam kesenjangan sosial) yang ditimbulkan oleh spanduk tersebut. Memakai premium, sama artinya kita termasuk tidak mampu. Premium menjadi bahan bakar rendahan, tidak bergengsi. Akan timbul, si kaya pakai pertamax, si miskin pakai premium (saya miskin dong.. hehe).


KEMANA PUBLIC RELATIONS PERTAMINA?

Atau lebih tepat pertanyaannya, apa PR Pertamina tak tahu cara berkomunikasi yang baik (apalagi PR loh, harus bisa menciptakan image perusahaan yang optimis). Pesan dalam spanduk itu jelas salah (menurut analisis saya loh) karena dapat menimbulkan opini kesenjangan sosial pada rakyat.

Kalau memang tujuan dari Pertamina adalah agar masyarakat beralih dari bahan bakar premium ke pertamax (untuk mengurangi subsidi BBM), maka menggolongkan premium ke dalam bahan bakar tidak mampu bukanlah solusi.

Lebih tepat jika Pertamina mengemukakan kelebihan Pertamax, misalnya hasil pembakaran atau efek terhadap mesin. Nantinya masyarakat yang 'sadar teknologi' dab 'sayang mesin' akan merasa lebih untung kalau pakai pertamax.

Bisa-bisa pembeli pertamax tidak hanya dari kalangan ekonomi atas, namun juga masyarakat dengan kalangan ekonomi menengan atau kebawah yang lebih tertatik memakai pertamax.

Jadi, pemakaian pertamax bukan karena gengsi saja tapi juga tahu apa plus-nya pertamax dibandingkan bahan bakar lainnya.

Selama ini publik hanya dijejali "PAKAI PERTAMAX", sedangkan manfaat penggunaannya tidak terlalu disosialisasikan (jika dibandingkan dengan kampanye PREMIUM BBM MISKIN). Tambah lah bangsa kita ga cerdas. *ups

==========================================================

Kalau menurut pandangan teori kritikal, mengapa pemerintah berusaha mengurangi subsidi untuk rakyat? Tak lain tak bukan pasti karena ulah si Paman Sam dengan konsensus Washington. Singkatnya, negara ini semakin menuju sistem kapitalis.

Cape' deh.. mikirin akal-akalan pemerintah. Saya sih, tetep pakai premium. Ga peduli mau dibilang miskin a.k.a ga mampu. Hehehe..

(Widya Darma)

Selasa, 03 Mei 2011

penggemar warnet

PENGGEMAR WARNET


Siapa yang tidak tahu tentang internet?mulai dari kalang bawah, menengah sampai atas pasti sangat mengenal internet. Bahkan anak- anak, remaja dan dewasa. Internet kita sudah berkembang sangat baik dalam masyarakat umum. Internet sangat membantu kita dalam berbagai aktifitas dan mengerjakan tugas bagi para mahasiswa seperti saya, bukan hanya itu internet juga bisa membantu kita dalam berkomunikasi kepada sanak saudara ataupun teman yang begitu jauh melalui dunia maya yang kini sedang digemari masyrakat yaitu facebook dan twitter.
Saat ini warnet sudah begitu banyak disekeliling kita, para penggemar warnet tidak hanya dikalangan remaja saja bahkan anak-anak sudah mulai menjadi penggemar warnet. Warnet bisa menjadi penghibur hati disaat kita jenuh oleh aktifitas kita sehari-hari, diwarnet kita juga bisa melakukan chatting, facebook, game online dan masih banyak lagi yang kita bisa lakukan diwarnet, namun terkadang warnet sering disalah gunakan oleh pihak-pihak teertentu untuk melakukan hal-hal yang bisa membuat para penikmat warnet menjadi penasaran untuk melakukan hal-hal yang tidak seharusnya mereka lakukan.
Dunia warnet bisa merusak moral bangsa Indonesia karnada warnet para pelajar kadang suka lupa dengan tugasnya sebagai pelajar karna mereka sehabis pulang sekolah mereka langsung pergi kewarnet hingga berjam-jam lamanya, kadang mereka rela membolos untuk pergi kwarnet untuk sekedar bermain-main facebook, chatting, game online, download dan masih banyak lagi. Hal ini menjadi para remaja kejanduan pada dunia maya yang bagi mereka lebih mengasikkan dari pada dunia nyata yang kadang kejam. Seharusnya para orang tua lebih bisa memberikan perhatian extra kepada anak-anaknya agar mereka tidak menjadi kejaduan warnet dan menghabiskan waktunya diwarnet

Halte UNISMA




Halte UNISMA merupakan salah satu halte yang cukup ramai di kota Bekasi. Mengapa dinamakan Halte UNISMA karena letak halte ini tepat diseberang kampus Uiversitas Islam “45” Bekasi, tepatnya di Jalan Cut Meutia. Wajar saja jika halte ini ramai, karena halte ini dekat dengan perempatan jalan yang selalu ramai dengan kendaraan roda dua dan roda empat yang melintas setiap harinya. Mulai dari sepeda motor, mobil pribadi, angkutan kota (angkot), Elf, mini bus, sampai bus antarkota melintas di jalan ini.
Ibu Dedeh di depan Warungnya
Tidak heran juga jika banyak orang yang memanfaatkan halte ini sebagai ladang mencari uang. Seperti Ibu Dedeh yang sudah berjualan disekitar halte ini selama 7 tahun. Pelanggannya kebanyakan dari supir angkot yang sekedar membeli miniman atau rokok di warungnya. Walaupun penghasilan yang didapatnya tidak seberapa, tapi cukup untuk memenuhi kehidupannya. Agar dapat berjualan disana, Bu Dedeh harus meninta izin kepada Satpol PP dan Satpam Balai Irigasi. Berbeda dengan Pak Ramid yang sudah berjualan gorengan disekitar halte ini selama lebih kurang 13 tahun. Beliau adalah perantau, dan sekarang tinggal di sebuah kontrakan dekat Balai Irigasi. Mahasiswa dan pegawai Balai Irigasi adalah yang sering membeli gorengannya. Tapi tak jarang orang-orang yang lewat pun membeli gorengannya.
Tempat sampah disekitar halte
Mengenai keamanan, kenyaman, dan kebersihan halte ini cukup memadai. Di halte ini terdapat tiga buah tempat sampah yang berbeda untuk isinya. Tapi sepertinya pengguna halte dan sekitarnya tidak terlalu memperdulikannya, yang penting sudah membuang sampah pada tempatnya. Menurut Safitri, mahasiswa Unisma FAI menyatakan bahwa halte UNIsMA ini terbilang aman karena selama ini dia belum pernah mendengar apalagi mengalami tindak kriminal disekitar halte. Tapi dia merasa tidak nyaman dengan banyaknya coretan-coretan di tembok halte. Dia juga sangat menginginkan pemerintah daerah memperhatikan ini, dan segera diperbaiki.
Semua pihak turut andil dalam menjaga keamanan, kenyamanan Halte UNISMA. Baik pengguna halte, pedagang disekitar halte, dan Pemerintah Daerah Bekasi. (Fauziah Cahyani)

Minggu, 01 Mei 2011

Terminal Induk Bekasi, Timbulkan Kemacetan

BEKASI - Kemacetan yang terjadi di kawasan Terminal Induk Bekasi sepertinya telah menjadi pemandangan tiap hari bagi para calon penumpang di wilayah Bekasi dan sekitarnya. Dalam pengoperasian setiap hari Terminal Bekasi menampakan masalah yang mungkin tidak bisa dihindari oleh para pengguna terminal baik untuk calon penumpang, sopir trayek atau para pengguna jalan lainnya.
Ini disebabkan oleh banyaknya kendaraan umum yang parkir di sembarang tempat sehingga bus-bus jakarta atau luar jakarta yang akan keluar dari terminal pun terjebak macet. Seringkali ditemukan sopir bus maupun angkot menaikan dan menurunkan penumpang disembarang tempat. Faktor lain yang menyebabkan kemacetan berlanjut adalah sopir bus dan angkot yang kerap tidak mematuhi rambu-rambu lalu lintas yang berlaku. “kita ngetem disini biar dapet penumpang,soalnya penumpang lebih suka nunggu dijlana dibandingkan di terminal’” ujar Asep salah satu supir angkot.
Sementara itu Andi Wahyudi selaku Kepala Tata Usaha Terminal Bekasi pada hari Selasa mengatakan, upaya yang sudah dilakukan dalam mengatasi kemacetan diterminal tersebut sudah ditangani oleh bagian operasional kendaraan Terminal Bekasi. Sedangkan untuk menjaga keamanan didalam terminal terdapat pos polisi yang bertugas 24 jam. Andi menambahkan pihaknya tengah berupaya untuk meningkatkan fasilitas yang terdapat di Terminal Bekasi. Terminal Induk Bekasi merupakan salah satu terminal yang ada di Kota Bekasi yang dikategorikan golongan B yang memiliki luas 1,5 hektar. Saat ini fasilitas yang bisa digunakan oleh para calon penumpang yang menunggu bus kota atau angkot meliputi 4 halte dan 6 toilet. Ditempat yang berbeda Entang Kustama, Ketua Retribusi memberikan keterangan bahwa pihaknya mengenakan biaya retribusi kepada tiap trayek kendaraan yang masuk dalam lingkungan terminal sebesar Rp.2000 buat bis dan Rp 400 untuk angkot sebagai biaya peningkatan pelayanan failitas Terminal Induk Bekasi.

oleh Muhamad Rismanto dan Christina.S.N.Saputri