Pages

Rabu, 11 Mei 2011

Kemana Public Relations Pertamina?

Hai kawan-kawan, selamat datang di blog saya.. By the way, suka liat spanduk ini di SPBU Pertamina tidak?


Mungkin poster ini sudah tidak asing, dan ada di hampir setiap SPBU di wilayah Bekasi (yang saya lihat).

Hal yang ingin saya kritisi dalam masalah ini adalah pesan yang disampaikan kepada publik melalui spanduk tersebut. Disitu dituliskan :


PREMIUM ADALAH BBM BERSUBSIDI
HANYA UNTUK GOLONGAN TIDAK MAMPU



Saya melihat pesan tersebut dalam beberapa sudut pandang :
1. Sudut pandang sebagai rakyat kecil : Saya pakai Premium, saya miskin
2. Sudut pandang sebagai orang kaya : Saya ga pantes pakai premium
3. Sudut pandang sebagai mahasiswa : Kenapa subsidi tidak boleh dinikmati seluruh rakyat? Subsidi itu kan hak rakyat
4. Pakai teori kritikal : Ada apa dibalik pembatasan subsidi?

Anyway, yang paling mencolok adalah opini publik (terutama dalam kesenjangan sosial) yang ditimbulkan oleh spanduk tersebut. Memakai premium, sama artinya kita termasuk tidak mampu. Premium menjadi bahan bakar rendahan, tidak bergengsi. Akan timbul, si kaya pakai pertamax, si miskin pakai premium (saya miskin dong.. hehe).


KEMANA PUBLIC RELATIONS PERTAMINA?

Atau lebih tepat pertanyaannya, apa PR Pertamina tak tahu cara berkomunikasi yang baik (apalagi PR loh, harus bisa menciptakan image perusahaan yang optimis). Pesan dalam spanduk itu jelas salah (menurut analisis saya loh) karena dapat menimbulkan opini kesenjangan sosial pada rakyat.

Kalau memang tujuan dari Pertamina adalah agar masyarakat beralih dari bahan bakar premium ke pertamax (untuk mengurangi subsidi BBM), maka menggolongkan premium ke dalam bahan bakar tidak mampu bukanlah solusi.

Lebih tepat jika Pertamina mengemukakan kelebihan Pertamax, misalnya hasil pembakaran atau efek terhadap mesin. Nantinya masyarakat yang 'sadar teknologi' dab 'sayang mesin' akan merasa lebih untung kalau pakai pertamax.

Bisa-bisa pembeli pertamax tidak hanya dari kalangan ekonomi atas, namun juga masyarakat dengan kalangan ekonomi menengan atau kebawah yang lebih tertatik memakai pertamax.

Jadi, pemakaian pertamax bukan karena gengsi saja tapi juga tahu apa plus-nya pertamax dibandingkan bahan bakar lainnya.

Selama ini publik hanya dijejali "PAKAI PERTAMAX", sedangkan manfaat penggunaannya tidak terlalu disosialisasikan (jika dibandingkan dengan kampanye PREMIUM BBM MISKIN). Tambah lah bangsa kita ga cerdas. *ups

==========================================================

Kalau menurut pandangan teori kritikal, mengapa pemerintah berusaha mengurangi subsidi untuk rakyat? Tak lain tak bukan pasti karena ulah si Paman Sam dengan konsensus Washington. Singkatnya, negara ini semakin menuju sistem kapitalis.

Cape' deh.. mikirin akal-akalan pemerintah. Saya sih, tetep pakai premium. Ga peduli mau dibilang miskin a.k.a ga mampu. Hehehe..

(Widya Darma)

1 komentar:

  1. Golongan tidak mampu..mana mungkin beli premium bener gak....tidak mampu lho...beli beras untuk hari ini aja belum tentu bisa (kalau pun bisa beli beras mau dimasak dimana??? gak mampu beli kompor, mau pake kayu bakar pancinya kagak ada)...duhh bingung dr mana bisa beli premium....ya...gol tsb???!!!@@??

    gak ngerti maksud tulisan di spanduk tsb...

    (cep kopem)

    BalasHapus